, ,

Dalam Audiensi Strategis, Bupati Nias Barat Sampaikan Kendala Pembangunan ke Wamen PDTT

oleh -1383 Dilihat

Membangun dari Ketertinggalan: Bupati Nias Barat Sampaikan Isu Strategis ke Wamen PDTT

Jeritan Pematangsiantar– Dalam sebuah pertemuan yang penuh dengan harapan dan tekad, ruang kerja Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT) di Jakarta menjadi saksi dari sebuah dialog penting untuk masa depan ujung barat Indonesia. Bupati Nias Barat, Eliyunus Waruwu, S.Pt., M.Si., secara langsung menyampaikan berbagai isu strategis pembangunan daerahnya yang masih berstatus tertinggal kepada Wamen PDTT, Ahmad Riza Patria, pada Rabu (20/8/2025).

Audiensi yang juga dihadiri oleh Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Syamsul Widodo, ini bukan sekadar kunjungan formal. Ia mencerminkan sebuah upaya konkret pemerintah daerah untuk mempercepat laju pembangunan dengan membuka keran sinergi yang lebih erat dengan pemerintah pusat.

Lebih dari Sekadar Infrastruktur: Menyibak Akar Masalah Ketertinggalan

Kabupaten Nias Barat, yang terbentuk dari pemekaran dan didorong oleh semangat otonomi serta pascatrauma gempa besar dua dekade silam, masih menghadapi tantangan multidimensi. Bupati Eliyunus dan rombongan diduga kuat menyampaikan pokok-pokok permasalahan yang selama ini membelit, mulai dari keterbatasan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, dan akses pelabuhan, hingga kesenjangan akses terhadap listrik, air bersih, dan layanan kesehatan.

Namun, respons yang diberikan oleh Wamen Ahmad Riza Patria justru menyoroti sebuah perspektif yang lebih dalam dan fundamental. Dalam pernyataannya pada Kamis (21/8/2025), Riza menekankan bahwa ketertinggalan suatu daerah seringkali tidak hanya berakar pada masalah infrastruktur fisik semata.

Dalam Audiensi Strategis, Bupati Nias Barat Sampaikan Kendala Pembangunan ke Wamen PDTT
Dalam Audiensi Strategis, Bupati Nias Barat Sampaikan Kendala Pembangunan ke Wamen PDTT

Baca Juga: Menkomdigi Bakal Buat Kurikulum Pelatihan untuk Pengurus Kopdes Merah Putih

“Ketimpangan yang terjadi, maaf, keterbelakangan ini sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Mungkin saja mindset selama ini kurang pada rasa tanggung jawab, kurangnya rasa memiliki, serta etos kerja yang belum optimal,” ujarnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi sebuah pendekatan pembangunan yang holistik. Artinya, membangun daerah tertinggal tidak bisa hanya dengan mengecor jalan atau mendirikan puskesmas, tetapi harus disertai dengan revolusi mental dan peningkatan kapasitas manusia yang menghuninya. Ini adalah pengakuan bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah penggerak utama yang akan memastikan bahwa infrastruktur dan program pembangunan lainnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Gaya Kepemimpinan yang Diacungi Jempol

Di tengih kritik konstruktif tentang kondisi SDM, Wamen Riza justru memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Bupati Eliyunus Waruwu. Ia menilai sang Bupati bukan hanya sebagai birokrat, tetapi sebagai seorang pemimpin yang memiliki visi dan kemampuan eksekusi yang mumpuni.

“Saya melihat Bupati Nias Barat memiliki kompetensi yang bagus, mampu bekerja cepat dengan gaya kerja yang efektif. Harapannya, pola kerja seperti ini dapat menular ke seluruh jajaran OPD (Organisasi Perangkat Daerah), sehingga manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat,” tutur Riza.

Pujian ini signifikan, karena menunjukkan kepercayaan pusat terhadap kapasitas lokal dalam memimpin perubahan. Sebuah daerah mungkin tertinggal, tetapi ketika dipimpin oleh figur yang dinamis dan memahami medan, peluang untuk bangkit menjadi jauh lebih besar. Gaya kepemimpinan Bupati Eliyunus, yang disebut “cepat” dan “efektif”, diharapkan dapat menjadi katalisator yang memicu transformasi budaya kerja di seluruh birokrasi Nias Barat.

Merangkai Sejarah Perjuangan untuk Masa Depan yang Optimistis

Dalam audiensinya, Bupati Eliyunus juga tidak lupa mengingatkan perjalanan panjang dan berliku yang telah dilalui Nias Barat. Dari reruntuhan akibat bencana alam besar 20 tahun lalu hingga perjuangan berat membentuk kabupaten sendiri, setiap langkahnya adalah hasil dari kontribusi dan masukan banyak pihak yang peduli.

“Semoga dengan audiensi hari ini ada secercah harapan baru bagi Nias Barat untuk bisa bangkit dan sejajar dengan daerah lain. Harus tetap optimis,” kata Bupati Eliyunus, menyuntikkan semangat kepada seluruh anak bangsa Nias Barat.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah penegasan bahwa Nias Barat memiliki resilience (ketahanan) yang telah teruji. Semangat untuk bangkit dari bencana dan memperjuangkan identitas daerahnya sendiri adalah modal sosial yang tak ternilai harganya.

Sinergi sebagai Kunci: Memaknai Audiensi ke Depan

Pertemuan ini diharapkan bukan menjadi akhir, melainkan awal dari sebuah babak baru kolaborasi. Audiensi ini harus diterjemahkan menjadi action plan yang konkret. Beberapa hal yang dapat diantisipasi pascapertemuan ini adalah:

  1. Program Peningkatan Kapasitas SDM: Pelatihan vokasi, beasiswa, dan program penguatan kelembagaan untuk aparatur daerah (OPD) menjadi sangat krusial.

  2. Percepatan Infrastruktur Strategis: Pengajuan proyek-proyek infrastruktur seperti jalan poros, pelabuhan penyeberangan, dan jaringan telekomunikasi akan mendapatkan perhatian khusus dengan pendampingan dari Kemendes PDTT.

  3. Pengembangan Ekonomi Lokal: Sinergi untuk memberdayakan potensi unggulan Nias Barat, seperti pariwisata bahari, kelapa, cengkih, dan perikanan, dengan pendekatan yang modern dan berkelanjutan.

  4. Pembangunan Berkelanjutan Pascabencana: Menguatkan Nias Barat sebagai daerah yang tangguh bencana dengan sistem peringatan dini dan tata ruang yang lebih baik.

Audiensi antara Bupati Eliyunus Waruwu dan Wamen Ahmad Riza Patria adalah sebuah simbol. Simbol bahwa pemerintah pusat mendengar, dan pemerintah daerah bergerak aktif. Kini, tugas bersama adalah memastikan bahwa secercah harapan yang disebutkan Bupati Eliyunus itu dapat menjelma menjadi cahaya terang yang membawa Nias Barat bangkit, sejajar, dan berdaulat atas kemajuan daerahnya sendiri.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.