, ,

Sebuah Kehidupan Keluarga yang Berantakan Pasangan Ini Sering Pindah dan Kerap Bertengkar

oleh -1203 Dilihat

Tragedi Cemburu Berujung Pembunuhan: Pria Tikam Ibu 5 Anak di Deli Serdang Gara-Gara Video Call

Jeritan Pematangsiantar–  Sebuah kisah tragis kembali mengguncang masyarakat Sumatera Utara. Seorang pria, Budi Sulaiman (33), nekat menikam istrinya sendiri, Dini Gusnimar (31), hingga tewas di Desa Manunggal, Kabupaten Deli Serdang. Motifnya? Cemburu buta karena sang istri kedapatan video call dengan pria lain.

Korban, seorang ibu dari lima anak, ditemukan tewas di rumahnya pada Sabtu (16/8/2025) pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Aksi keji itu baru terungkap setelah anak-anak korban menangis histeris memanggil tetangga.

Pelaku Ditangkap di Menteng, Motif Cemburu

Polisi berhasil menangkap Budi Sulaiman pada hari yang sama di daerah Menteng, dekat kediaman keluarganya. “Pelaku saat ini ditahan di Polsek Medan Labuhan untuk menjalani proses hukum,” ujar Kanit Reskrim Polsek Medan Labuhan, Iptu Hamzar Nodi, saat dikonfirmasi Kompas.com.

Sebuah Kehidupan Keluarga yang Berantakan Pasangan Ini Sering Pindah dan Kerap Bertengkar
Sebuah Kehidupan Keluarga yang Berantakan Pasangan Ini Sering Pindah dan Kerap Bertengkar

Baca Juga: Perubahan Iklim dan Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan Terburuk di Eropa Selatan

Menurut pengakuan pelaku, ia melakukan pembunuhan karena tidak tahan melihat istrinya video call dengan pria lain. “Korban ditikam tiga kali, di bagian leher, dada, dan dagu,” jelas Nodi.

Kronologi Mengerikan: Dicekik, Kepala Diantukkan, Lalu Ditikam

Kepala Dusun V Desa Manunggal, Fajar, yang ditemui di lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa sebelum pembunuhan terjadi, korban dan pelaku sempat bertengkar hebat.

“Sebelumnya korban dan pelaku ribut. Lalu korban dicekik dan kepalanya diantukkan. Setelah itu, ditikam tiga kali,” kata Fajar.

Fajar juga menyebutkan bahwa pasangan ini kerap terlibat cekcok. “Mereka tinggalnya pindah-pindah. Baru-baru ini saja tinggal di sini,” tambahnya.

Tetangga Sempat Dengar Keributan, Tapi Abaikan karena Sudah Biasa

Rukiyah, salah seorang tetangga, mengaku sempat mendengar keributan dari rumah korban malam sebelum kejadian. Namun, ia dan warga lain memilih tidur kembali karena menganggap itu pertengkaran biasa.

“Tadi sempat kami dengar ada ribut-ribut. Terus kami tidur lagi karena memang sering ribut,” kata Rukiyah.

Namun, pagi harinya, ia dikejutkan dengan tangisan histeris anak-anak korban. “Pas kami bangun, anaknya sudah nangis-nangis, ternyata ibunya meninggal dalam rumah,” ungkapnya.

Lima Anak Jadi Yatim, Masyarakat Berduka

Dini Gusnimar meninggalkan lima anak yang kini harus hidup tanpa sosok ibu. Masyarakat setempat berduka dan prihatin dengan nasib anak-anak tersebut.

“Kami sedih sekali. Anak-anak ini masih kecil, tiba-tiba harus kehilangan ibu karena ayahnya sendiri,” ujar seorang warga.

Polisi Evakuasi Jenazah, Proses Hukum Berjalan

Tim polisi yang datang ke lokasi langsung mengevakuasi jenazah korban dan memasang garis polisi di rumah tersebut. Budi Sulaiman kini menghadapi pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup atau bahkan hukuman mati.

Refleksi: Kekerasan dalam Rumah Tangga Harus Dicegah

Kasus ini kembali menyoroti bahaya toxic masculinity dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap berujung fatal. Cemburu buta dan ketidakmampuan mengendalikan emosi telah merenggut nyawa seorang ibu dan meninggalkan luka mendalam bagi kelima anaknya.

Pakar psikologi keluarga menekankan pentingnya komunikasi sehat dalam rumah tangga. “Jika ada masalah, bicarakan baik-baik. Kekerasan bukan solusi, justru menghancurkan keluarga,” ujar Dr. Anita Rahayu, psikolog klinis.

Gerakan #StopKDRT: Edukasi dan Dukungan bagi Korban

Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap tanda-tanda KDRT di sekitar mereka. Jika mendengar atau melihat kasus kekerasan, segera laporkan ke pihak berwajib atau hubungi layanan hotline KDRT.

“Kami mendorong korban atau saksi KDRT untuk berani melapor. Jangan diam saja, karena diam berarti membiarkan kekerasan terus terjadi,” kata perwakilan Komnas Perempuan.

Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama kelima anak yang kini harus hidup tanpa kasih sayang ibu. Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghargai kehidupan dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

Bantu Anak-Anak Korban
Bagi yang ingin membantu pendidikan dan kebutuhan hidup kelima anak korban, dapat menghubungi posko bantuan yang didirikan warga setempat di Desa Manunggal, Deli Serdang.

Artikel ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Mari bersama ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.